Warna analogus adalah kelompok warna yang berdekatan satu sama lain pada lingkaran warna. Sedangkan warna monokromatis merujuk pada susunan warna yang dihasilkan dari pencampuran warna dasar dengan hitam atau putih.

Susunan Warna Analogus

Warna analogus terdiri dari gradasi warna yang dimulai dari satu warna dominan, seperti biru, merah, atau kuning, lalu mengarah ke warna-warna yang lebih halus tanpa perubahan yang terlalu drastis. Biasanya, warna analogus terdiri dari dua hingga tiga warna yang saling berdekatan di dalam lingkaran warna.

Dalam hal ini, warna utama (yang seringkali berupa warna primer atau sekunder) diimbangi dengan warna pendukung (sekunder atau tersier), dan warna ketiga berasal dari kombinasi kedua warna tersebut atau merupakan gradasi dari warna yang dominan.

Mengutip Dasar Seni dan Desain oleh Mukhirah dan Nurbaiti (2018: 50), warna primer adalah warna dasar yang tidak dapat dihasilkan dari pencampuran warna lain, seperti biru, kuning, dan merah. Sedangkan warna sekunder dihasilkan dari pencampuran dua warna primer, seperti hijau, jingga, dan ungu, sementara warna tersier berasal dari pencampuran dua warna sekunder.

Contoh Warna Analogus

Contoh warna analogus mencakup kombinasi warna yang berdekatan di dalam lingkaran warna. Berikut adalah beberapa contoh kombinasi warna analogus:

  • Kuning, hijau, dan hijau kekuningan
  • Biru, ungu, dan ungu kebiruan
  • Jingga, merah, dan jingga kemerahan
  • Hijau, biru, dan biru kehijauan
  • Merah, ungu, dan ungu kemerahan
  • Jingga, kuning, dan kuning jingga

Konsep warna analogus banyak digunakan dalam seni dan desain karena memberikan efek yang lebih dinamis dan hidup tanpa terkesan membosankan.

Makna Psikologis Warna

Setiap warna dalam lingkaran warna analogus memiliki makna psikologis tersendiri. Berdasarkan Pencitraan Visual Kawasan Urban oleh Herry Santosa dan Nur Fauziah (2019: 61-64), berikut adalah pengaruh psikologis dari beberapa warna utama dalam palet warna analogus:

  1. Merah
    Merah adalah warna yang paling menarik perhatian dan sering digunakan untuk menambah semangat. Secara psikologis, warna ini mengandung energi yang dapat menstimulasi emosi, meningkatkan motivasi, dan memberikan kesan kegembiraan atau intensitas. Merah juga berhubungan dengan perasaan panas dan marah dalam konteks seni.

  2. Kuning
    Kuning adalah warna yang melambangkan keceriaan, kebahagiaan, dan kehati-hatian. Sebagai warna cerah, kuning membawa energi positif dan sering digunakan untuk menarik perhatian orang lain.

  3. Jingga
    Jingga mengingatkan pada suasana hangat musim gugur. Secara psikologis, warna ini bisa memberikan kesan yang agak tidak nyaman, tetapi sering kali digunakan untuk menarik perhatian dengan kuat.

  4. Biru
    Biru menyampaikan pesan tentang kedalaman dan tantangan. Biru gelap dapat merangsang pemikiran jernih, sementara biru muda menciptakan rasa tenang dan membantu konsentrasi.

  5. Hijau
    Hijau merupakan warna yang simbolis untuk keseimbangan, harmoni, dan ketenangan. Warna ini juga sering dikaitkan dengan alam, sehingga memiliki kemampuan untuk menenangkan dan menyegarkan pikiran, serta menyeimbangkan emosi.

  6. Ungu
    Ungu dikenal sebagai warna yang terkait dengan kesetiaan dan kepuasan. Secara psikologis, warna ini dapat memberikan perasaan damai dan menenangkan, bahkan berfungsi untuk meningkatkan kualitas tidur.

Dengan memahami makna psikologis warna-warna analogus ini, kita bisa menciptakan ruang atau karya seni yang memiliki kesan emosional yang kuat dan sesuai dengan suasana yang diinginkan.