Teori warna, menurut Interaction Design Foundation, adalah pedoman yang digunakan oleh desainer untuk menyampaikan pesan kepada pengguna melalui pilihan warna. Secara umum, persepsi warna dapat bervariasi antar individu, dengan beberapa orang cenderung menyukai atau tidak menyukai warna tertentu. Namun, bagi pemilik bisnis atau pengusaha, warna memainkan peran penting dalam pembangunan merek (brand).
99Designs mengungkapkan bahwa keputusan seseorang untuk menyukai atau tidak menyukai suatu produk bisa terjadi dalam waktu kurang dari 90 detik, dan sekitar 90% keputusan tersebut dipengaruhi oleh warna, bukan aspek lainnya dari produk. Oleh karena itu, pemilihan warna yang tepat dan penerapan teori warna yang benar menjadi sangat penting bagi seorang desainer grafis.
Teori Warna Menurut Para Ahli
Teori Sir Isaac Newton
Sir Isaac Newton adalah orang pertama yang mengemukakan teori warna setelah melakukan eksperimen pada sinar matahari. Ia menemukan bahwa ketika sinar matahari dipisahkan, akan muncul berbagai warna, termasuk merah, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu, yang dapat dilihat pada pelangi.
Teori Brewster
Pada tahun 1831, Brewster menyederhanakan teori warna dengan mengelompokkan warna menjadi empat kategori: primer, sekunder, tersier, dan warna netral. Konsep ini masih digunakan hingga sekarang dalam seni rupa melalui “lingkaran warna Brewster,” yang juga menjelaskan teori komplementer, split komplementer, triad, dan tetrad.
Teori Munsell
Dikenal pada tahun 1858, teori ini membahas warna berdasarkan aspek fisik dan psikologis. Munsell mengategorikan warna utama (primer) menjadi merah, kuning, hijau, biru, dan jingga, dengan warna sekunder yang lebih bervariasi.
Pentingnya Teori Warna dalam Desain
Warna memiliki peran penting dalam desain produk, logo, dan elemen visual lainnya karena dapat menyampaikan ide, membangkitkan emosi, serta memengaruhi persepsi pengguna. Design and Promote juga menyatakan bahwa warna digunakan untuk mengekspresikan pesan dan menarik minat audiens, serta mempengaruhi keputusan branding, marketing, dan penjualan.
99Designs menambahkan bahwa teori warna berperan besar dalam pengembangan citra merek dan dalam menciptakan desain yang efektif serta mencerminkan nilai brand.
Teori Warna dan Roda Warna (Color Wheel)
Pada tahun 1666, Sir Isaac Newton juga memperkenalkan roda warna, yang mengelompokkan warna menjadi tiga kategori utama:
-
Warna Primer: Warna dasar yang tidak dapat dihasilkan dari kombinasi warna lain. Contoh: merah, kuning, biru.
-
Warna Sekunder: Dihasilkan dari kombinasi dua warna primer. Contoh: oranye (merah + kuning), hijau (kuning + biru), ungu (merah + biru).
-
Warna Tersier: Dihasilkan dari pencampuran warna primer dan sekunder. Contoh: magenta (merah + ungu).
Atribut Warna
Louis Prang (1876) mengemukakan bahwa warna memiliki tiga atribut utama yang sering digunakan dalam desain:
- Hue: Nama warna, seperti merah, biru, atau hijau.
- Value: Tingkat kecerahan atau kegelapan suatu warna.
- Saturation/Intensity: Tingkat kecerahan atau kesuraman warna.
Hubungan Antar Warna
-
Kontras Komplementer: Kombinasi dua warna yang berlawanan pada roda warna, seperti jingga dan biru, menghasilkan kontras yang kuat.
-
Kontras Split Komplementer: Menggabungkan dua warna yang agak berseberangan di roda warna, seperti jingga dengan hijau kebiruan.
-
Kontras Triad Komplementer: Tiga warna yang membentuk segitiga sama sisi pada roda warna, dengan jarak 60 derajat antar warna.
-
Kontras Tetrad Komplementer: Empat warna yang membentuk segi empat pada roda warna, dengan sudut 90 derajat antar warna.
Penerapan teori warna yang tepat dapat memengaruhi bagaimana desain diterima oleh audiens, serta membantu merek atau produk tampil lebih menarik dan sesuai dengan identitas yang diinginkan.